SADARKAN SISWA HORMATI GURU BERSAMA MIRACLE PSYCHOLOGY


BANTUL (MATSAMABA) - “Maafkan kami guruku, maafkan atas kenakalan kami, kami menyesal guruku, kami belum bisa membuatmu bangga, kami menyesal tidak mendengarkan nasehatmu, kami menyayangimu.”
Rangkaian kalimat yang mengandung energi positif tersebut diucapkan oleh siswa kelas 7 MTsN 5 Bantul (Matsamaba) dalam kegiatan miracle psichology di bawah bimbingan Diah Purwita Rini, M Imam Bahri dan Addini Nurlima Hadi dari Miracle Psichology Yogyakarta di Kampus Hijau Matsamaba, Sabtu (12/4/2019).
Kegiatan diawali dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dengan jumlah antara 6-7 anak. Siswa disapa dengan sebutan “Pelajar dan dijawab dengan “ho…..”, disambung dengan kata “konsentrasi….” dan dijawab dengan “a…siappppp”.
Siswa diajak melompat ka kanan depan kiri, belakang kiri kanan, depan depan belakang dan senam jari. Selanjutnya mereka diajak bermain sambil mencermati instruksi M Imam Bahri dan Addini Nurlima Hadi.








“Kalian semua harus mengikuti semua instruksi dengan penuh konsentrasi, kalau tidak, akan ketinggalan dalam permainan, tak bisa nikmati permainan, bahkan bisa terinjak temannya. Konsentrasi perlu dilatih agar dapat fokus menerima pelajaran,” tandas Diah Purwita.
Menurut Diah, seseorang memiliki energi yang bisa menular kepada orang lain. Contohnya ketika d isuatu kelas ada yang ramai maka anak lainnya ikut ramai. Apabila seseorang dapat konsentrasi dirinya tak akan mudah dipengaruhi orang lain, penuh percaya diri dalam keseharian baik di kelas, di rumah dan di masyarakat.
“Kalian yang masih usil itu tanda bahwa belum bisa menghargai orang lain. Setiap diri itu butuh guru untuk belajar akhlak, belajar matematika dan berbagai macam ilmu. Adab utama dalam belajar adalah menghargai gurunya. Ketika kalian tertib nurut dan menghargai guru, pikiran kita terbuka dan menerima pelajaran dari guru. Tarik napas yang dalam dan buang dengan pelan,” kata Diah dengan penuh kesabaran.
Di sesi akhir, motivator dari Miracle Psichology mempersilakan guru pendamping yang terdiri Ruri Swandari, Netty Herawaty, dan Sutanto untuk berdiri di hadapan siswa menerima permintaan maaf.

Mewakili madrasah, Sutanto berharap kepada siswa untuk dapat “empan papan” dalam kehidupan. “Dalam kehidupan ini kita saling membutuhkan, kita harus dapat menempatkan diri dalam posisi masing-masing, saat sebagai siswa di madrasah, sebagai anak di lingkungan keluarga atau sebagai pemuda di masyarakat. Tak ada manusia yang sempurna, guru dan siswa saling membutuhkan dan saling melengkapi. Kami para guru akan berupaya mengantarkan kalian sesuai potensi masing-masing. Potensi diri mesti dibangkitkan di madrasah hebat bermartabat dengan dukungan restu orangtua,” kata Sutanto (hum).

Komentar